Asthma
bronchiale adalah suatu penyakit yang ditandai oleh adanya hiper reaktivitas
saluran napas terutama trakhea dan bronkhus terhadap suatu rangsangan. Penyakit
ini dapat menyerang pada berbagai usia, terutama pada usia anak dan lansia.
Waktu serangan kebanyakan terjadi pada malam hari dan pagi hari.
Tanda
dan gejalanya adalah adanya inflamasi kronik saluran napas yang disebabkan oleh
adanya peningkatan respon yang berlebihan atau hiperresponsive dari jalan napas
terhadap allergen ,yang sering berhubungan dengan adanya obstruksi jalan napas
yang luas dan sering kali bersifat reversible dengan atau tanpa pengobatan.
Obstruksi tersebut terjadi karena adanya spasme otot-otot bronchus, adanya
inflamasi kelenjar mukosa, serta adanya produksi mucus yang berlebihan.
Sebagai
akibat dari adanya obstruksi tersebut dapat memicu terjadinya gejala yang
bersifat episodic dan berulang berupa sesak napas, dada terasa berat, dengan
disertai adanya mengi atau suara napas yang melengking dan batuk-batuk
berdahak, terutama pada malam hari atau pagi hari.
Batuk
pada penderita asma awalnya adalah merupakan gejala, tetapi pada akhirnya akan
menjadi suatu permasalahan tersendiri dari sekian banyak permasalahan yang ada.
Beberapa permasalahan yang sering kali menyertai pada penderita asma bronkhiale
adalah adanya sesak napas, adanya gangguan pembersihan jalan napas, air flow,
penyempitan jalan napas, gangguan pertukaran gas, disfungsi otot-otot
pernapasan, serta gangguan pola pernapasan (abnormal breathing pattern) dan
batuk yang pada hakekatnya saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya.
Batuk
pada penderita asma bronkhiale sangat bervariasi, yang dapat dilihat dari
frekuensi atau seringnya batuk. Frekuensi seringnya batuk pada penderita asthma
bronkhiale dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1). Hiperskeresi
bronchus yang menghasilkan mucus yang berlebihan.
2).
Penumpukan mucus atau seputum karena menurunnya fungsi silia.
3).
Ventilasi yang rendah karena obstruksi jalan napas.
4).
Daya tahan tubuh yang menurun.
Penatalaksanaan
fisioterapi pada penderita asma bronchiale di rumah sakit maupun di
klinik-klinik fisioterapi sering dilakukan dengan memberikan intervensi dengan Microwave Diathermi (MWD), postural drynage dan breathing exercise.
Microwafe Diathermi (MWD) adalah suatu modalitas fisioterapi dengan menggunakan arus
bolak-balik dengan frekuensi 2450 MHz dan panjang gelombang 12,25 cm.
Berdasarkan frekuensi dan panjang gelombangnya maka MWD
mempunyai kemampuan penetrasi kedalam jaringan ± 3 cm atau dapat mencapai
jaringan otot. Dengan aplikasi dari pendekatan anterior dan posterior dinding
thorak, dengan efek thermal dari microwave diathermi diharapkan dapat
meningkatkan metabolisme otot khususnya otot-otot pernapasan, meningkatkan
sirkulasi darah lokal, meningkatkan elastisitas jaringan, menurunkan tonus
otot-otot pernapasan dan otot polos dinding bronchus melalui normalisasi
nosisensorik, sehingga dapat diperoleh efek relaksasi pada otot polos bronchus
dan otot-otot pernapasan.
Efek
relaksasi pada otot polos bronchus tersebut, diharapkan akan terjadi perubahan
pada bronchus yaitu menurunnya stress mekanik pada dinding bronchus dan
terjadinya dilatasi atau pelebaran bronchus. Dengan menurunnya stress mekanik
pada dinding bronchus maka diharapkan dapat menurunkan hiperskresi mucus dan
dapat menurunkan frekuensi batuk . Dengan terjadinya dilatasi bronchus
tersebut, akan memberikan efek kemudahan dalam pengaliran mucus dan menurunkan
sesak napas.
Efek
relaksasi pada otot-otot pernapasan adalah menurunnya ketegangan otot-otot
pernapasan, meningkatnya metabolisme otot, nutrisi untuk otot tercukupi
sehingga otot-otot pernapasan dapat bekerja optimal dan pernapasan menjadi
lebih baik untuk menghasilkan ventilasi paru yang adequate.
Postural
drainage adalah suatu metode pembersihan saluran napas dengan cara memposisikan
penderita sedemikian rupa, dan dengan pengaruh gravitasi, mucus dapat dialirkan
ke saluran yang lebih besar, sehingga mudah untuk dikeluarkan. Dalam
pelaksanaannya postural drainage ini selalu disertai dengan tapotement atau
tepukan dengan tujuan untuk melepaskan mucus dari dinding saluran napas dan
untuk merangsang timbulnya reflek batuk, sehinggga dengan reflek batuk mucus
akan lebih mudah dikeluarkan. Jika saluran napas bersih maka pernapasan akan
menjadi normal dan ventilasi menjadi lebih baik. Jika saluran napas bersih dan
ventilasi baik maka frekuensi batuk akan menurun.
Breathing exercise adalah suatu metode latihan
pernapasan yang dilakukan dengan type tertentu, untuk tujuan tertentu serta
diaplikasikan pada kondisi tertentu pula. Breathing exercise yang dimaksud di
sini adalah force passive breathing exercise yaitu suatu bentuk latihan napas
yang dalam pelaksanaannya sering dilakukan bersamaan dengan postural drynage
atau dilakukan dalam sesi tersendiri, dimana saat akhir dari ekspirasi
diberikan suatu penekanan dengan arah sesuai dengan gerakan segmen thorak saat
ekspirasi dan saat inspirasi tekanan dihilangkan namun tangan fisioterapist
tetap menempel pada segmen dinding thorak tersebut dan mengarahkan gerakan
sesuai gerakan segmen dinding thorak tersebut saat inspirasi. Dengan breathing
exercise ini akan dapat menurunkan udara residu dan mengefektifkan kerja dari
otot-otot pernapasan sehingga dapat memperbaiki ventilasi paru yang menurun
pada penderita asma bronkhiale. Jika ventilasi baik maka akan dapat
menghasilkan batuk yang efektif. Jika batuk efektif maka mucus akan mudah untuk
di keluarkan, jika mucus keluar maka saluran napas bersih, dan jika saluran
napas bersih maka frekuensi batuk akan menurun.